Sign in

up in the woods, down on my mind

Bagaimana ekologi mengajarkan bahwa “mati” tidak benar-benar nyata

Ada salah satu cerita yang dulu membuatku takut akan kematian. Salah satunya adalah, karena nanti badanmu akan dipenuhi cacing dan belatung — hancur dan remuk — akibat dosa-dosa yang kamu perbuat. Mungkin seperti azab dari dosa-dosa tersebut, katanya. Gara-gara itu, cacing dan sebangsanya menjelma menjadi makhluk jahat karena telah menghancurkan jasad-jasad yang dikuburkan.

Namun kawan, sadarkah bahwa proses menghancurkan itu adalah proses alami yang dilakukan oleh ekosistem? Jasad itu adalah kumpulan materi organik, nutrisi yang dibutuhkan tanah untuk menghidupi makhluk-makhluk yang tumbuh di atasnya.

Ketika ada sekumpulan materi berbentuk jasad yang jatuh di tanah, segerombol organisme bernama detritivor akan datang…


Langit di Kalimantan begitu rendah. Mungkin awannya terlalu dekat dengan tanah.

Kebiasaan melamun nyatanya sulit ditinggalkan, apalagi ketika pemandangannya begitu indah untuk dilewatkan. Perjalanan di atas kapal cepat terbuka yang menghubungkan pulau ke pulau selalu menyediakan pemandangan langit yang indah. Kala itu di Papua, dan saat ini di Kalimantan.

Aku rasa awan di sini mudah digapai dengan tangan, saking dekatnya dengan dataran tempatku berpijak. Hal ini mengakibatkan seakan-akan langit di sini begitu rendah, yang akhirnya membuatku berpikir bahwa awanlah yang memberikan ilusi tinggi dan rendahnya langit. Bukankah langit tidak berujung? Apakah ujungnya adalah lapisan ozon? Apakah lapisan itu kasat mata?

Tidak sengaja, sudah beberapa kali aku singgah di pulau dengan tiga…


Seperti Ibu yang merawat anaknya sendiri

Hutan bambu di Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur

Desa Genamere merupakan salah satu desa yang tergabung di dalam Kawasan Hutan Inelika, salah satu dari sekian kawasan yang terlibat dalam Program Penanaman Satu Juta Bambu pada tahun 1997 lalu. Saat ini, lokasi penanaman tersebut menjadi kawasan Perhutanan Sosial dalam skema hutan kemasyarakatan (HKm) yang didistribusikan ke dalam lima kelompok tani di Desa Genamere, dinaungi oleh Gapoktan Genamere. Albert Kadju, atau yang biasa disapa Om Albert, merupakan Ketua Kelompok Gapoktan Genamere dan juga menjadi salah satu sosok yang cukup aktif dalam menggerakan kelompok tani. …


My anthropocentric view on how to cleanse your breath

Fresh air that cleanse your lungs in Manimbahoi Village, South Sulawesi.

An alarming increase of air quality index in Jakarta

Jakarta’s bad air quality has been a hot issue since people living there mentioning repeatedly how smog smothered the fully air-conditioned skyscrapers they worked in. According to Greenpeace report released in early 2019, Jakarta is listed as Southeast Asia’s most polluted city. It is also shown in Air Visual stated in The Jakarta Post that the capital’s AQI has never been categorized as “healthy”, and the index is extremely higher than any other capital cities in developed countries. It is scary to think about how polluted the air is, while throwing an unfinished takeout lunch in the inorganic trash bin…


I value my friends so much even though I might not show it well. I want them to be happy, I want them to rely on me. I hope they know how much they mean to me, because sometimes I might act too possessive or too uncaring. Believe me, I care too much I’m afraid it becomes too annoying, that’s why I create some space for my insecurities.

This phase is so lonely I can’t handle it well. This is too much to bear, with other people’s lives passing right in front of me. How happy they are. How settle…


Seperti bakteri, ia pun pengurai. Namun yang diurai tentu saja bukan materi organik. Ia mengurai perasaan, bagaimana kata dirangkai untuk kemudian diungkapkan sebagai deskripsi rasa. Tidak mungkin semua mengerti, tidak apa. Interpretasi orang pun bisa berbeda-beda. Yang penting luapan emosi itu dapat terurai. Menciptakan pemantik agar yang lain dapat berpikir, atau empati agar pembaca merasakan hal yang sama.

Perihal uraian harus bermakna, sebenarnya apa itu makna dan mengapa begitu dipermasalahkan. Ada atau tidaknya mungkin berpengaruh pada kualitas uraian, tapi makna begitu subjektif. Tidak perlu meninggikan atau merendahkan, karena makna itu bagian dari rasa. Jika ada yang menangkapnya, mungkin rasa yang terurai memanglah dinikmati juga.

Urai dan terburai, tercerai berai. Kita ini hidup dari ragam hancuran yang terbentuk kembali, untuk kembali hancur dan membentuk lagi.


Sumber: thatkindofwoman.tumblr.com

Kini aku mengerti mengapa aku lebih menyukai perjalanan dari pada tiba di tujuan. Perjalanan menyediakan kebebasan untuk melamun. Melamun merupakan hal yang paling menyenangkan, ketika pikiran dibawa terbang tanpa arah dan tujuan.

Aku tidak mengerti mengapa melamun menjadi begitu tabu. Takut kerasukan menjadi salah satu alasan kuat untuk menghindari sebuah lamunan. Alasan kedua yang sedang hangat diperbincangkan adalah ketika lamunan berkecenderungan untuk meleburkan fiksi dan kenyataan. Saat hal-hal yang dibayangkan ternyata bukan yang benar-benar terjadi.

Mengapa kebebasan berpikir manusia harus dibatasi, bahkan di dalam pikiran individu itu sendiri.

Padahal, apa salahnya berimajinasi? Membayangkan langit diujung bumi atau terbang mengitari mentari…


Mungkin cabang Purwakarta

ja.bang ba.yi

n. anak (bayi) yang baru lahir; orok

Pernah dengar ungkapan amit-amit jabang bayi? Sewaktu kecil, hingga SMP, saya hampir selalu mendengar — dan berakhir menyalahartikan — kata jabang menjadi cabang pada kalimat amit-amit jabang bayi. Awalnya saya bingung, apakah maksudnya kita berdoa agar bayi kita tidak bercabang? Ternyata saya salah dengar, atau kayanya… emang budek aja.

Ungkapan tersebut adalah bagian dari tradisi Jawa yang dikhususkan untuk ibu hamil. Amit-amit sebenarnya merupakan ungkapan permisi kepada jabang bayi, dan dilontarkan ketika ada suatu hal yang tidak diinginkan terjadi.

Contohnya, ketika bertemu seseorang yang tingkat kecerdasannya kurang atau parasnya tidak indah…


A (not so) friendly reminder that higher education doesn’t go hand in hand with higher intelligence

Check out the Dunning-Kruger effect which accidentally relates to this writing:

https://youtu.be/pOLmD_WVY-E

I thought it was a common sense that we should be nice to each other. True, the way we define nice is not always the same. But I think most people agree that there are things that is considered nice regardless our different opinion. Like, smiling to each other, saying three magic words: help/sorry/thank you, and being understanding.

I don’t get how come some people are so self righteous. You are never fully right, whatever your title/education/knowledge is, and I hope you realize that. We can never be…


Saat melihat peternakan ayam, saya sering merasa kasihan. Mereka diberi kesenangan, makanan yang banyak, tempat yang nyaman, untuk dieksploitasi telur dan dagingnya. Banyak sekali ayam yang tidak seperti ayam pada umumnya. Badannya yang terlalu besar dipenuhi hormon kimiawi, tidak alami, seakan sedetik lagi akan meledak karena tidak kuat menahan. Ditipu lingkungan yang direkayasa agar telur diproduksi sebanyak-banyaknya. Kadang saya berpikir, betapa kejamnya manusia. Haruskah sebuah makhluk diperas sedemikian rupa demi produksi yang tinggi?

Lalu sayapun berkaca pada keadaan. Di mana disekeliling saya rupanya banyak ayam-ayam yang bertebaran. Bahkan mungkin saya salah satunya. Saat tahu tujuan ibu saya menyekolahkan saya agar…

Kanya Chairunissa

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store