Seperti bakteri, ia pun pengurai. Namun yang diurai tentu saja bukan materi organik. Ia mengurai perasaan, bagaimana kata dirangkai untuk kemudian diungkapkan sebagai deskripsi rasa. Tidak mungkin semua mengerti, tidak apa. Interpretasi orang pun bisa berbeda-beda. Yang penting luapan emosi itu dapat terurai. Menciptakan pemantik agar yang lain dapat berpikir, atau empati agar pembaca merasakan hal yang sama.

Perihal uraian harus bermakna, sebenarnya apa itu makna dan mengapa begitu dipermasalahkan. Ada atau tidaknya mungkin berpengaruh pada kualitas uraian, tapi makna begitu subjektif. Tidak perlu meninggikan atau merendahkan, karena makna itu bagian dari rasa. Jika ada yang menangkapnya, mungkin rasa yang terurai memanglah dinikmati juga.

Urai dan terburai, tercerai berai. Kita ini hidup dari ragam hancuran yang terbentuk kembali, untuk kembali hancur dan membentuk lagi.

up in the woods, down on my mind

up in the woods, down on my mind