Sumber: thatkindofwoman.tumblr.com

Kini aku mengerti mengapa aku lebih menyukai perjalanan dari pada tiba di tujuan. Perjalanan menyediakan kebebasan untuk melamun. Melamun merupakan hal yang paling menyenangkan, ketika pikiran dibawa terbang tanpa arah dan tujuan.

Aku tidak mengerti mengapa melamun menjadi begitu tabu. Takut kerasukan menjadi salah satu alasan kuat untuk menghindari sebuah lamunan. Alasan kedua yang sedang hangat diperbincangkan adalah ketika lamunan berkecenderungan untuk meleburkan fiksi dan kenyataan. Saat hal-hal yang dibayangkan ternyata bukan yang benar-benar terjadi.

Mengapa kebebasan berpikir manusia harus dibatasi, bahkan di dalam pikiran individu itu sendiri.

Padahal, apa salahnya berimajinasi? Membayangkan langit diujung bumi atau terbang mengitari mentari. Berjalan kaki di atas api lalu lompat menuju Gunung Merapi.

Bermimpi di siang hari bisa jadi memotivasi. Aku sering melamun untuk menghibur diri. Yang berakhir membuatku semangat dalam menjalani hari. Toh pada akhirnya yang dapat membuatku bertahan hidup hanya diriku sendiri.

Namun tetap saja, rasa bersalah seringkali menghinggapi. Rasa yang diakibatkan oleh pikiran orang lain di dalam otak sendiri, yang terasa begitu mengadili dan bahkan mencaci maki. Tanpa sadar membuat lamunanku menjadi terhenti, dan sulit dilanjutkan kembali. Oleh karena itu, perjalanan menjadi satu-satunya sarana bebasku untuk tenggelam. Menyelam ke dalam lamunan yang berbatas sepi.

Mengapa sebegitu nikmatnya, berdosa dengan lamunan?

Pikiran larut malam di pulau seberang, Nunukan, Kalimantan Utara.

up in the woods, down on my mind

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store