Saat melihat peternakan ayam, saya sering merasa kasihan. Mereka diberi kesenangan, makanan yang banyak, tempat yang nyaman, untuk dieksploitasi telur dan dagingnya. Banyak sekali ayam yang tidak seperti ayam pada umumnya. Badannya yang terlalu besar dipenuhi hormon kimiawi, tidak alami, seakan sedetik lagi akan meledak karena tidak kuat menahan. Ditipu lingkungan yang direkayasa agar telur diproduksi sebanyak-banyaknya. Kadang saya berpikir, betapa kejamnya manusia. Haruskah sebuah makhluk diperas sedemikian rupa demi produksi yang tinggi?

Lalu sayapun berkaca pada keadaan. Di mana disekeliling saya rupanya banyak ayam-ayam yang bertebaran. Bahkan mungkin saya salah satunya. Saat tahu tujuan ibu saya menyekolahkan saya agar saya memiliki pendidikan yang tinggi, agar memiliki pekerjaan yang memuaskan, saya mulai berpikir. Bukankah saya sedang berada dalam peternakan? Diproses untuk diperas?

Lalu apa bedanya kita dengan ayam? Saat sekolah bukan ladang ilmu namun tahap persiapan untuk bekerja. Saat cita-cita sebatas ingin bekerja bukan untuk merasakan kehidupan. Bukankah tidak ada perbedaan? Toh pada akhirnya kita hanya akan menjadi hewan ternak para penguasa, peternak yang mengeksploitasi ternakannya. Lantas kini apalagi yang dicari?

Jika kini ayam dan manusia sudah tiada lagi berbeda.

up in the woods, down on my mind

up in the woods, down on my mind