Tentang Langit di Kalimantan

Langit di Kalimantan begitu rendah. Mungkin awannya terlalu dekat dengan tanah.

Aku rasa awan di sini mudah digapai dengan tangan, saking dekatnya dengan dataran tempatku berpijak. Hal ini mengakibatkan seakan-akan langit di sini begitu rendah, yang akhirnya membuatku berpikir bahwa awanlah yang memberikan ilusi tinggi dan rendahnya langit. Bukankah langit tidak berujung? Apakah ujungnya adalah lapisan ozon? Apakah lapisan itu kasat mata?

Tidak sengaja, sudah beberapa kali aku singgah di pulau dengan tiga negara ini. Sebanyak itu aku pergi, belum pernah sekalipun aku melihat orangutan dan bekantan di habitatnya. Padahal, hal pertama yang kupikir jika aku ke Kalimantan pertama kali adalah untuk kebutuhan konservasi, sehingga seharusnya kesempatan bertemu primata primadona itu akan lebih besar. Nyatanya, kepergianku ke Kalimantan sangat menggambarkan perpindahan ketertarikanku terhadap keilmuan ini.

Dari harapan awalnya untuk konservasi, kepergian pertamaku ke sini memiliki tujuan ke site tambang batu bara untuk menyelesaikan program studiku. Lalu, kepergian selanjutnya malah untuk pekerjaanku di bidang pengembangan kapasitas petani untuk komoditas bambu. Cukup jauh dari kegiatan konservasi karena peruntukan lahan yang berbeda, sehingga membuatku semakin jauh dari anganku bertemu bekantan dan orangutan.

Kejadian ini, bersamaan dengan kejadian-kejadian lain di dalam hidupku, membuatku sering berpikir tentang kehidupan. Bagaimana manusia yang memilih untuk tidak berencana dibawa terombang-ambing dalam kehidupan layaknya sampan di tengah laut. Kupikir, aku tidak akan seberpetualang ini di dalam hidupku. Meskipun aku tahu, pekerjaanku sekarang dengan mobilitas sangat tinggi ke beberapa pulau di Indonesia, merupakan harapan di masa kecilku. Jauh melampaui cita-cita masa kecil menjadi artis cilik ataupun dokter yang pernah menghampiri otakku dulu. Namun keinginan itu dulu kusangsikan, karena batasan-batasan yang tercipta dari otak sendiri maupun dari keluargaku yang tidak terlalu suka beranjak dari rumahnya.

Aku sering bertanya-tanya bagaimana Tuhan mendengar doa-doa remehku, bagaimana Ia mengabulkan permintaan kecilku, ketika aku, hingga sekarang, tidak rajin mematuhi perintah-Nya. Sebegitu kompleksnya relasi manusia dengan Tuhan-nya, tidak semudah mengukur seberapa rajin ibadahnya maupun seberapa vokal dia menyerukan ajaran agamanya.

Mungkin langit di Kalimantan memang betulan rendah. Atau mungkin Sang Pencipta sedang ingin mendekat dan rindu bercengkrama.

Tulisan ini dimulai di bulan April, 2018 di Nunukan, Kalimantan Utara dan diselesaikan di bulan Mei, 2021 di Flores, Nusa Tenggara Timur.

up in the woods, down on my mind

up in the woods, down on my mind