“I was born without my consent”

aku terobsesi dengan kematian. namun terlalu pengecut untuk mengakhiri dengan tangan sendiri. menurutku kematian itu menggenapkan, akhir sekaligus awal bagi suatu siklus. seperti pér, berada di titik yang sama namun pada dimensi yang berbeda. mungkin inilah sebabnya aku terobsesi dengan ekosistem hutan, dengan dekomposisi dan siklus nutrisi, yang menjadi inspirasi tulisan “Tentang Kematian”.

obsesiku diawali saat remaja, ketika dihadapkan dengan ragam permasalahan dewasa namun pikiran belum cukup matang untuk mencernanya. mati merupakan jalan pintas yang cukup bagus, sampai aku dihadapkan kembali pada masalah baru: ada iming-iming hidup setelah mati. nyaliku ciut saat sadar bahwa kematian merupakan sebuah kekekalan jiwa, dan segala keburukan kehidupan di dunia akan mendapat ganjarannya di kehidupan selanjutnya. apakah aku sudah siap mati dan masuk neraka? karena sepertinya tidak ada jaminan surga untukku. tentu saja aku si pengecut lebih memilih untuk tidak mati dengan tangan sendiri.

dengan mental manusia yang lebih memilih untuk menyalahkan keadaan dibanding menyelesaikan masalah, aku menemukan obsesi baru: mempertanyakan kehidupan. aku dihidupkan tanpa izinku. i was born without my consent.

mungkin pikiran ini melintas karena sering dibercandakan, “anak yang tidak diharapkan”. konteksnya sesungguhnya tidak sekasar yang dikira, umurku selang begitu jauh dengan kakak-kakakku, dan aku muncul karena ketidaksengajaan. kakak pertama dan kedua muncul karena keinginan keluarga besar memiliki anak dan cucu (kebetulan dapatnya perempuan semua), dan kakak ketigaku muncul karena ingin memiliki anak laki-laki. orang tuaku sudah puas dan tidak memiliki harapan apapun lagi, namun tiba-tiba aku terbentuk di rahim ibuku, dan berakhir dirawat hingga saat ini. lucunya, album-album foto dan foto keluarga yang terpajang banyak yang tidak melibatkanku (tentu saja karena belum lahir), dan ketika kecil aku sering dibercandakan anak yang tercipta tidak sengaja. beranjak dewasa dengan segala masalah yang ada, hal ini yang sering membuatku berpikir, siapa juga yang minta dilahirkan?

konsep perizinan dan persetujuan (apa terjemahan consent yang tepat?) terhadap makhluk yang tidak/belum bisa memberikannya sepertinya agak rancu. hal ini seperti memaksakan pikiran sendiri terhadap pikiran makhluk lain. janin yang diaborsi memiliki hak untuk hidup! bukankah jika begitu, bayi tersebut jug memiliki hak untuk tidak hidup? apakah penolakan untuk hidup melanggar norma ketika diutarakan oleh individu yang diberi kehidupan?

namun secara alami, makhluk hidup akan terus mencoba bertahan hidup. sadar atau tidaknya makhluk tersebut akan kehidupan setelah mati. melawan mati adalah insting makhluk hidup, dan semua organisme berhak untuk tetap hidup (dalam teori biosentrisme). konsep ini bertentangan dengan hak untuk memilih mati, karena secara alami tidak seperti itu. seperti pasangan jantan-betina, yang secara alami terjadi karena kebutuhan reproduksi. tapi sesungguhnya alami itu apa? jika rasa tidak sesuai dengan kaidah kehidupan apakah lantas rasa itu tidak divalidasi? jika kecenderungan diri tidak sesuai konsep alam apakah kita jadi tidak alami? apakah makhluk tersebut menjadi artifisial? seperti buatan manusia? apakah manusia bukan makhluk dari alam sehingga buatannya menjadi tidak alami?

lagipun, apakah janin itu sudah benar-benar hidup untuk menolak untuk mati? apakah janin sudah memiliki hak untuk memilih hidup jika belum hidup? tentu pertanyaan-pertanyaan ini akan lebih mudah dijawab jika kita bisa bertanya pada janin dan bayi. meskipun begitu, kesadaran manusia baru bisa di-”akui” ketika manusia sudah dianggap dewasa, dan sudah bisa menerima konsekuensi atas pilihan yang secara sadar dipilih. consent akan kehidupan menjadi sulit karena kita hanya menebak. janin merupakan kesempatan manusia untuk bisa hidup, itu yang pasti. benar-benar hidup atau tidaknya sungguh sangat tergantung pada Tuhan dan manusia lain yang bertanggung jawab terhadapnya.

tidak ada yang salah dengan pilihan untuk tidak melahirkan, menurut saya pribadi, karena pada akhirnya konsekuensi atas segala pilihan akan ditanggung oleh individu itu sendiri. dan tidak ada salahnya untuk berjuang, karena memang kesempatan untuk hidup sudah terlanjur diberikan. tidak ada yang salah, kecuali menyalahkan pikiran orang lain atas dasar pikiran sendiri.

untuk yang sudah terlanjur hidup, selamat berjuang. menyalahkan keadaan tidak akan menjawab pertanyaan, mari hidup dengan dada yang lebih lapang. tidak ada yang benar-benar ingin mati tanpa kepastian, dan tidak ada kepastian apapun setelah mati.

up in the woods, down on my mind

up in the woods, down on my mind